Ijinkan Aku Mencintaimu

Kadangkala Allah senantiasa mentakdirkan kita dengan suatu hal yang tidak kita duga, sesuatu hal yang tidak sama sekali kita sangka, tapi itulah ‘anugrah’ tinggal bagaimana kita memanfaatkan apa yang telah diberikannya.

Mencintaimu adalah bagian terindah dari anugrah yang telah diberikan, segenap rasa yang ada dalam diri semakin membuat kita memahami arti dari sebuah kebersamaan dan kebahagiaan, bukan lagi memikirkan diri tapi juga memikirkan ‘kamu’.

Ijinkan aku mencintaimu dengan segala kekurangan dan kelebihanku, karena bagiku mencintaimu adalah kekuatan yang allah hidayahkan darimu untukku, jangan biarkan keraguan menghantui jiwamu dalam meniti rasa sayang dan cinta yang telah kita ‘bentuk’ dihati kita masing-masing, berusaha menjaga dan mempertahankan apa yang harus kita jaga dan pertahankan.

Menjadikan cinta bukan lagi sebatas kata atau kalimat penetram jiwa tapi mampu membawa kita kepada kebaikan serta ridhonya. Berusaha sekuat tenaga dengan cinta yang kita miliki agar segala impian dan cita-cita kita senantiasa terwujud kedalam sebuah proses panjang yang penuh dengan kesabaran dan keistiqomahan cinta dengan POWER OF LOVE yang kita punya.

Ijinkan aku mencintaimu dengan sesederhana kalimat cinta sehingga cinta ini senantiasa terjaga kemurniannya. (Arrasya7)

Jika kukatakan aku selalu mencintaimu, sesungguhnya aku berbohong: Kadang-kadang aku membencimu. Tetapi, apa bedanya? Benciku  selalu membuatku semakin mencintaimu. Bagiku, mencintai atau  membencimu hanya semacam cara agar kamu selalu ada dalam diriku. Dengan mencintaimu, kau  selalu ada di hatiku. Dengan membencimu, kau selalu ada dalam pikiranku.

Cinta itu karunia, kita diberi meski tidak meminta. Tetapi “mencintai” adalah perkara lainnya, kan? Ia selalu membutuhkan usaha, kita yang mencari dan harus menemukannya sendiri. Maka bagiku, mencintaimu adalah berhenti mengandaikan semua hal baik yang tak ada pada dirimu sekaligus memaafkan semua hal buruk yang ada pada dirimu. Demikianlah caraku menemukan cinta pada dirimu: Barangkali ia memang sederhana, sesederhana senyummu saat membaca kalimat-kalimatku yang tengah kau baca; Semoga cukup bermakna.

Jika aku memang berjodoh denganmu, itu memang antara aku dan kamu. Biarlah Tuhan menjadi pihak ketiga saja, semacam pelengkap yang memberi restu. Bukankah harus begitu? Jodoh sebagai kata dasar, barangkali memang urusan Tuhan. Tetapi berilah imbuhan, apa saja, maka ia menjadi urusan manusia, urusan kita. Inilah janjiku: Setiap hari, aku akan berusaha membuat kita menjadi sepasang jodoh yang sempurna.

Apa boleh buat, aku mencintaimu sebab aku tak mengetahui cara lainnya. (fahdisme.com)

By Abdurrahman Ar_Rasya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s